KISAH DEP COLEKTOR
”Jim, ingat ya. Kau cukup menagih hutangnya. Bila tidak membayar, ancamlah. Bila tidak mempan juga, pakai tanganmu. Yah, dengan cara apa pun, engkau harus bawa kemari uang itu. Oke, Jim?” Sebuah alamat disodorkan ke wajahnya oleh Pak Jef. Melebar dengan guratan-guratan merah, mata Jim memelototi kertas itu. Jef kesal. Ini bawahan paling goblok dan yang paling menghabiskan energinya. Namun ia maklum saja. Jef pun mengeja alamat itu untuk Jim. Sepeda motor menjadi senjata Jim membelah jalanan Jakarta siang itu. Tak seperti membelah kelapa di kampungnya, membelah jalanan Jakarta menguras segala yang dimiliki Jim. Dari kantornya, ia menuju ke selatan. Lantas membelok ke timur. Ia menuju daerah Kramat Jati kini. Jarak yang bisa ditempuh dalam waktu 30 menit itu, dihabisi Jimi satu setengah jam. Maklum saja, pengemudi baru di jalanan Jakarta. Setelah berputar-putar sejam di gang-gang untuk bertanya sana sini—di tambah Jimi hanya menggunakan ingatan tanpa bisa membaca—sampai...