KISAH DEP COLEKTOR
”Jim, ingat ya. Kau cukup menagih hutangnya. Bila tidak membayar, ancamlah. Bila tidak mempan juga, pakai tanganmu. Yah, dengan cara apa pun, engkau harus bawa kemari uang itu. Oke, Jim?”
Sebuah alamat disodorkan ke wajahnya oleh Pak Jef. Melebar dengan guratan-guratan merah, mata Jim memelototi kertas itu. Jef kesal. Ini bawahan paling goblok dan yang paling menghabiskan energinya. Namun ia maklum saja. Jef pun mengeja alamat itu untuk Jim.
Sebuah alamat disodorkan ke wajahnya oleh Pak Jef. Melebar dengan guratan-guratan merah, mata Jim memelototi kertas itu. Jef kesal. Ini bawahan paling goblok dan yang paling menghabiskan energinya. Namun ia maklum saja. Jef pun mengeja alamat itu untuk Jim.
Sepeda motor menjadi senjata Jim membelah jalanan Jakarta siang itu. Tak seperti membelah kelapa di kampungnya, membelah jalanan Jakarta menguras segala yang dimiliki Jim. Dari kantornya, ia menuju ke selatan. Lantas membelok ke timur. Ia menuju daerah Kramat Jati kini. Jarak yang bisa ditempuh dalam waktu 30 menit itu, dihabisi Jimi satu setengah jam. Maklum saja, pengemudi baru di jalanan Jakarta. Setelah berputar-putar sejam di gang-gang untuk bertanya sana sini—di tambah Jimi hanya menggunakan ingatan tanpa bisa membaca—sampailah ia di alamat tujuan.
Yanti membuka pintu. Ia sudah tahu, penagih hutang yang biasanya rese dan tak tahu aturan akan datang hari ini. Serese-resenya dan se-taktahu-aturannya mereka, Yanti sudah terbukti mampu mengatasi orang jenis ini. Tadi ketika sang debt collector menelepon ke kantor, Yanti membuat janji untuk bertemu di rumah saja. Yanti tak mau teman-teman sekantornya tahu kalau dia punya begitu banyak hutang. Bagaimana nanti penilaian mereka? Up to date perkembangan fesyen, film, buku, restoran, rumah makan, make up tapi dengan menghutang? Ia tahu, teman-temannya selalu bertanya-tanya, dari mana ia bisa begitu royal berbelanja ini itu.
Namun semua pertanyaan terselubung itu lenyap, ketika Yanti memberitakan pertunangannya dengan seorang kapten kapal muda lulusan sekolah tinggi pelayaran di Semarang. Tunangannya baru setahun ini bekerja pada sebuah kapal tanker yang jarang merapat di Jakarta. Paling-paling hanya berlabuh di daerah Sumatera, Bangka, lantas ke luar negeri; Dubai, Brunai dan negara-negara Arab lainnya. Alhasil, Yanti dan tunangannya jarang bertemu semenjak laksamana muda itu naik kapal. Maklum, baru masuk dinas, belum bisa mengambil cuti banyak-banyak
Yanti sudah mempersiapkan diri. Mengenakan pakaian semenarik mungkin yang mampu membuat lelaki dari golongan apa pun berdecak kagum, terpelotot matanya atau setidak-tidaknya sedikit curi pandang. Seperti beberapa bulan yang lalu, debt collector dari bank lainnya, pengeluar kartu kredit Yanti yang satunya lagi, akhirnya pulang dengan sumringah tanpa perlu membawa sepersen pun uang Yanti. Bahkan, Sebelum pergi, debt collector itu berjanji semuanya akan baik-baik saja.
Ah, saling bertukar nomor hp, beberapa kali bertemu, putus hubungan, gampanglah, pikir Yanti.
Jimi sudah menyiapkan semuanya. Bicara baik-baik, langsung ambil uangnya, tanda tangan, lalu pulang. Bicara baik-baik, tak dapat uangnya, mengancam, ambil uang, tanda tangan, pulang. Bicara baik-baik, tak dapat uangnya, mengancam tak dapat uangnya, tinju mendarat di meja atau pintu atau lemari, ambil uangnya, pulang. Bicara baik-baik, tinju melayang di meja, tak dapat uang, menggertak, tak dapat uang, lantas? Telepon Jef dan .....




Comments
Post a Comment